Logo

02In- Adrian Menghina dan Menendang Surya di Depan Semua Orang… Tapi Satu Panggilan “Pak Wijaya” Membuat Wajahnya Pucat!

Article image





Surya Wijaya berdiri tegak setelah dua pria berbaju hitam membantunya bangkit. Ia mengusap setitik darah di sudut bibirnya, lalu menatap Adrian tanpa sedikit pun kemarahan yang meledak-ledak. Justru ketenangannya membuat seluruh ruangan terasa jauh lebih menakutkan. Adrian yang beberapa detik lalu berdiri penuh kesombongan kini mundur setengah langkah. “Pak Wijaya… apakah Bapak terluka?” tanya pemimpin rombongan dengan cemas. Surya menggeleng. “Tidak. Saya hanya ingin tahu satu hal. Apakah beginilah tamu diperlakukan di rumah ini ketika pakaiannya terlihat murah?” Adrian langsung pucat. “Pak… saya bisa menjelaskan. Saya tidak tahu siapa Bapak.” Surya menatapnya tajam. “Itulah masalahnya, Nak. Kamu merasa harus tahu siapa seseorang terlebih dahulu sebelum memutuskan apakah dia layak dihormati.”

Nadine segera menarik lengan Adrian sambil berbisik panik, “Adrian, minta maaf sekarang! Ini bukan orang biasa!” Adrian menelan ludah lalu membungkuk sedikit. “Pak Wijaya, saya benar-benar kehilangan kendali. Jas ini sangat mahal dan—” Surya langsung memotong, “Dan karena sebuah jas, kamu merasa berhak menendang seorang lelaki tua?” Ruangan kembali sunyi. Beberapa tamu yang sebelumnya hanya menonton mulai saling berbisik. Pemimpin rombongan membuka sebuah map kulit dan berkata, “Pak Wijaya, dewan direksi sudah menunggu keputusan Bapak mengenai akuisisi Santoso Group besok pagi.” Wajah Adrian seketika membeku. Ia menatap Surya, lalu map itu, kemudian kembali kepada Surya. “Akuisisi… Santoso Group? Perusahaan ayah saya?” Surya tidak langsung menjawab. Ia hanya berkata, “Sekarang kamu mulai mengerti mengapa namaku terdengar familiar, bukan?”

Kaki Adrian terasa lemas. Selama berbulan-bulan, perusahaan keluarganya memang sedang mencari investor untuk menyelamatkan utang yang membengkak, tetapi ayahnya merahasiakan nama calon investor utama. “Jadi… Bapak adalah Surya Wijaya yang itu? Pendiri Wijaya Nusantara?” tanyanya terbata-bata. Surya tersenyum tipis tanpa kehangatan. “Saya datang malam ini bukan untuk menguji siapa pun. Saya bahkan tidak berniat berbicara soal bisnis. Saya hanya ingin menikmati acara dengan tenang. Tetapi kamu memberi saya sesuatu yang jauh lebih berharga daripada laporan keuangan.” Adrian gemetar. “Apa maksud Bapak?” Surya melangkah satu langkah mendekat. “Saya melihat karakter calon pemimpin Santoso Group ketika dia merasa sedang berhadapan dengan seseorang yang tidak punya kekuasaan. Dan apa yang saya lihat jauh lebih buruk daripada angka merah di laporan perusahaanmu.”

Adrian mendadak berlutut di depan Surya. Para tamu tersentak. “Pak Wijaya, tolong! Jangan batalkan investasi karena kesalahan saya. Ribuan pegawai bergantung pada perusahaan itu. Ayah saya akan hancur!” Surya menatapnya beberapa saat sebelum berkata, “Berdiri. Jangan berlutut kepada saya hanya karena sekarang kamu tahu siapa saya.” Adrian perlahan bangkit dengan mata berkaca-kaca. Surya melanjutkan, “Tadi kamu memandang pakaian saya dan menganggap hidup saya tidak berharga. Sekarang setelah mendengar nama perusahaan saya, tiba-tiba suaramu berubah. Itu bukan penyesalan. Itu ketakutan kehilangan sesuatu.” Adrian buru-buru berkata, “Saya menyesal, Pak. Sungguh! Beri saya satu kesempatan membuktikannya.” Surya menjawab dingin, “Kesempatan itu sebenarnya sudah kamu dapatkan saat saya berkata, ‘Maaf, saya benar-benar tidak sengaja.’ Kamu memilih menolaknya dengan penghinaan dan tendangan.”

Tiba-tiba suara seorang pria tua terdengar dari belakang kerumunan. “Adrian! Apa yang sudah kamu lakukan?!” Semua orang menoleh. Hendra Santoso, ayah Adrian, datang dengan wajah panik setelah menerima kabar dari stafnya. Begitu melihat Surya, ia langsung menghampiri. “Pak Wijaya, saya mohon maaf atas kelakuan anak saya. Saya tidak pernah mengajarinya seperti ini.” Adrian mencoba bicara, “Ayah, aku—” tetapi Hendra membentaknya, “Diam! Kamu hampir menghancurkan perusahaan karena kesombonganmu sendiri!” Surya mengangkat tangan. “Pak Hendra, jangan salah paham. Saya tidak akan menghukum ribuan pegawai karena kesalahan satu orang. Proses penyelamatan perusahaan tetap berjalan.” Hendra mengembuskan napas lega. Namun Surya belum selesai. “Tapi ada satu syarat baru. Adrian tidak boleh memegang jabatan eksekutif apa pun selama proses restrukturisasi.” Adrian menatapnya terpukul. “Bapak memecat saya?” Surya menjawab, “Tidak. Perbuatanmu sendiri yang melakukannya.”

Nadine yang sejak tadi diam perlahan melepaskan tangannya dari lengan Adrian. Adrian menatapnya putus asa. “Nadine, jangan bilang kamu juga meninggalkanku.” Nadine menunduk beberapa detik sebelum berkata, “Aku malu mengakuinya, tetapi tadi aku tersenyum ketika kamu menghina Pak Surya. Aku juga salah.” Adrian terdiam. Nadine kemudian menatap Surya. “Pak, saya tidak meminta Bapak memaafkan saya. Tapi malam ini membuat saya sadar bahwa saya tidak jauh berbeda darinya.” Surya menjawab, “Kalau begitu jangan sia-siakan rasa malu itu. Gunakan untuk berubah.” Nadine mengangguk, lalu berbalik kepada Adrian. “Aku mencintaimu, tetapi aku tidak akan berdiri di sisimu ketika kamu memperlakukan manusia seperti sampah hanya karena mereka terlihat miskin. Kalau suatu hari kamu berubah, mungkin kita bisa bicara lagi. Bukan malam ini.” Adrian hanya mampu memandangnya berjalan menjauh.

Surya kemudian mengambil blazer tuanya yang sedikit kusut dan merapikan kerahnya sendiri. Sebelum meninggalkan aula, ia berhenti tepat di depan Adrian. “Nak, kamu tadi berkata orang seperti saya tidak pantas berada di ruangan ini. Mungkin kamu benar tentang satu hal: memang ada seseorang yang belum pantas berada di ruangan penuh orang terhormat. Tetapi bukan saya.” Adrian menundukkan kepala, benar-benar kehilangan kata-kata. Surya lalu menoleh kepada pemimpin rombongannya. “Pastikan seluruh pegawai Santoso Group tetap menerima gaji. Jangan biarkan keluarga mereka membayar harga atas kesalahan orang lain.” Sang pemimpin mengangguk. “Baik, Pak Wijaya.” Surya berjalan menuju pintu, tetapi Adrian memanggilnya sekali lagi. “Pak Surya… apakah suatu hari Bapak bisa memaafkan saya?” Surya berhenti tanpa menoleh. “Jangan cari maaf dari saya. Carilah kembali rasa hormatmu kepada manusia. Kalau suatu hari kamu bisa memperlakukan petugas kebersihan sama seperti kamu memperlakukan seorang miliarder, saat itulah kamu tidak membutuhkan maaf saya lagi.” Surya pergi bersama rombongannya, sementara Adrian berdiri sendirian di tengah kemewahan yang tiba-tiba terasa kosong. Malam itu ia kehilangan jabatan, kekasih, dan harga dirinya—tetapi untuk pertama kalinya, ia mendapatkan kesempatan untuk memahami bahwa nilai manusia tidak pernah bisa diukur dari jas, rekening bank, atau nama keluarga.

Comments (0)

Loading comments...