Logo

02id-“Istriku Sudah Meninggal… Lalu Siapa Pelayan Ini?”

Article image

Nadine berdiri membeku ketika pertanyaan Arga menggantung di udara: “Kalau Laras masih hidup… siapa yang ada di makam itu?” Seluruh ballroom seolah kehilangan udara. Laras memeluk Raka dengan tubuh gemetar, sementara Arga menatap tunangannya tanpa berkedip. Nadine mencoba tersenyum, tetapi bibirnya tak mampu menutupi ketakutannya. “Arga… jangan percaya begitu saja. Kita semua melihat pemakamannya.” Laras akhirnya mengangkat wajah. Air matanya jatuh tanpa suara. “Kau benar, Nadine. Ada pemakaman malam itu. Tapi perempuan yang kalian kuburkan… bukan aku.” Para tamu langsung berbisik. Arga mendekat, suaranya pecah. “Laras, katakan semuanya. Aku ingin mendengar kebenaran malam itu.”

Laras menarik napas panjang lalu berkata, “Lima tahun lalu, setelah kecelakaan itu, aku tidak meninggal. Seorang nelayan menemukan tubuhku di tepi sungai dan membawaku ke rumah sakit kecil di luar Jakarta. Aku kehilangan ingatan selama berbulan-bulan.” Arga menutup mulutnya, menahan tangis. “Lalu kenapa kau tidak kembali?” Laras memandang Nadine. “Karena ketika ingatanku mulai kembali, seseorang datang menemuiku.” Wajah Nadine berubah pucat. Laras melanjutkan, “Dia mengatakan Arga sudah menikah, Raka membenciku, dan kalau aku kembali, keluargaku akan berada dalam bahaya.” Arga menoleh tajam. “Siapa orang itu?” Laras menjawab pelan, “Orang suruhan Nadine.” Nadine langsung berteriak, “Bohong! Dia berusaha menghancurkan pernikahan kita!”

Saat itulah seorang pria tua berseragam hotel maju dari kerumunan. Ia adalah Pak Surya, mantan sopir keluarga Pratama. “Tuan Arga… Nyonya Laras tidak berbohong.” Nadine memandangnya dengan mata terbelalak. “Kau seharusnya sudah pergi dari Jakarta!” Pak Surya mengeluarkan sebuah ponsel lama dari sakunya. “Saya pergi karena Anda membayar saya untuk diam. Tapi saya menyimpan rekaman percakapan malam itu.” Ia menekan tombol, dan suara Nadine terdengar jelas: “Pastikan Arga percaya Laras sudah mati. Setelah pemakaman selesai, dia akan menjadi milikku.” Arga menatap Nadine dengan wajah hancur. “Kau melakukan semua ini… hanya supaya bisa menikah denganku?” Nadine menangis. “Aku mencintaimu!” Arga menjawab dingin, “Itu bukan cinta. Itu obsesi.”

Namun Laras menggeleng. “Belum semuanya.” Semua orang kembali terdiam. Laras mengambil sebuah amplop dari tas kecilnya. “Aku menyelidiki makam itu sebelum datang ke sini.” Ia menyerahkan dokumen kepada Arga. “Jenazah yang dikuburkan atas namaku adalah perempuan tak dikenal yang meninggal pada malam yang sama. Nadine memanfaatkan kesalahan identifikasi dan membayar seseorang untuk mengganti data rumah sakit.” Arga membaca dokumen itu dengan tangan gemetar. “Jadi selama lima tahun… aku berkabung di makam orang asing?” Nadine mundur satu langkah. Raka memeluk Laras semakin erat. “Mama… jangan pergi lagi.” Laras berlutut dan mencium keningnya. “Mama tidak akan meninggalkanmu lagi, Nak.” Arga menahan tangis. “Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita lagi.”

Nadine tiba-tiba menjatuhkan dirinya di depan Arga. “Tolong! Aku memang berbohong, tapi aku tidak membunuh siapa pun! Aku hanya takut kehilanganmu!” Arga menatap perempuan yang pernah hampir menjadi istrinya itu tanpa rasa cinta sedikit pun. “Kau sudah kehilangan aku sejak saat kau memilih menghancurkan hidup Laras.” Nadine mencoba meraih tangannya, tetapi Arga mundur. “Besok pengacara keluargaku menyerahkan semua rekaman dan dokumen ini kepada polisi.” Nadine tersentak. “Arga, jangan!” Laras kemudian berkata dengan tenang, “Aku tidak ingin balas dendam, Nadine. Tapi perempuan yang dikuburkan menggantikanku juga punya keluarga. Mereka berhak tahu siapa dia.” Kalimat itu membuat Nadine benar-benar runtuh. Untuk pertama kalinya, semua kemewahan dan kesombongannya tidak bisa melindunginya.

Beberapa minggu kemudian, identitas perempuan di makam itu akhirnya ditemukan. Ia bernama Sari, seorang perawat muda yang keluarganya telah mencarinya selama bertahun-tahun. Arga mengundang keluarga Sari dan meminta maaf atas kesalahan yang terjadi. Di depan makam baru Sari, Laras berkata, “Maaf karena namaku pernah mengambil tempatmu.” Ibu Sari menggenggam tangannya. “Bukan salahmu. Yang penting sekarang putri saya akhirnya pulang kepada kami.” Sementara itu Nadine resmi ditahan karena pemalsuan dokumen, penyuapan, dan menghalangi penyelidikan. Saat dibawa pergi, ia menatap Laras dan berbisik, “Kau mengambil semuanya dariku.” Laras menjawab, “Tidak, Nadine. Aku hanya mengambil kembali hidup yang kau curi dariku.”

Pada malam pertama Laras kembali ke rumah keluarga Pratama, Raka tertidur di antara kedua orang tuanya setelah berkali-kali memastikan ibunya benar-benar berada di sana. Arga berdiri di balkon sambil menatap Laras. “Aku kehilangan lima tahun bersamamu.” Laras mendekatinya dan menjawab, “Kita tidak bisa mengubah lima tahun itu.” Arga menggenggam tangannya. “Tapi bolehkah aku menghabiskan sisa hidupku memperbaikinya?” Laras terdiam, lalu tersenyum sambil menangis. “Jangan berjanji menjadi sempurna. Berjanjilah untuk tidak pernah lagi membiarkan kebohongan berdiri di antara kita.” Arga mengangguk. Dari dalam kamar, Raka terbangun dan memanggil, “Mama! Ayah!” Mereka berdua berlari menghampirinya. Raka memeluk keduanya dan berkata, “Sekarang kita keluarga lagi, kan?” Laras mencium kepalanya. “Ya, Sayang. Kali ini… tidak ada seorang pun yang bisa memisahkan kita.”

Comments (0)

Loading comments...