01IN-Dia Paksa Wanita Tua Itu Menjilat Lantai… Tapi Saat Putranya Datang, Alya Langsung Membeku!

“Sayang…!” Suara Alya nyaris tak terdengar. Tangannya masih menempel di pipi, tetapi rasa sakit itu seakan lenyap ketika ia akhirnya menyadari siapa pria yang berdiri di hadapannya. Arga—pria yang selama ini ia cintai, pria yang beberapa minggu lagi akan diperkenalkan keluarganya sebagai calon suaminya—kini menatapnya seperti menatap orang asing. Di belakang Arga, Ibu Sari masih berlutut dengan mata basah, persis seperti beberapa detik sebelumnya ketika Alya memaksanya merendahkan diri di depan seluruh tamu. Alya melangkah maju dengan panik. “Arga, dengarkan aku… aku tidak tahu dia ibumu!” Rahang Arga mengeras. “Jadi kalau dia bukan ibuku, perlakuanmu tadi menjadi benar?” Kalimat itu membuat ruangan kembali sunyi. Untuk pertama kalinya malam itu, Alya tidak memiliki jawaban.
Arga berbalik dan segera membantu Ibu Sari berdiri. Ia membersihkan debu halus dari lutut ibunya, lalu menggenggam kedua tangannya dengan hati-hati. “Ibu, kenapa Ibu tidak meneleponku saat datang?” tanyanya dengan suara yang mulai bergetar. Ibu Sari tersenyum lemah. “Ibu hanya ingin melihat perempuan yang selalu kamu ceritakan itu, Nak. Ibu datang tanpa perhiasan, tanpa sopir, tanpa pakaian mahal… karena Ibu ingin tahu seperti apa hatinya ketika dia tidak tahu siapa Ibu.” Wajah Arga langsung berubah. Ia menoleh tajam kepada Alya. Alya mundur satu langkah. “Tidak… jangan bilang semua ini memang direncanakan.” Ibu Sari menggeleng pelan. “Tumpahan minuman itu kecelakaan. Tapi penghinaanmu… itu pilihanmu sendiri.” Beberapa tamu menundukkan kepala, malu karena tadi hanya diam menyaksikan semuanya.
Alya mulai menangis. Kesombongan yang tadi memenuhi wajahnya runtuh sepenuhnya. Ia mendekati Arga dan mencoba memegang lengannya. “Aku marah, Arga. Gaunku rusak, semua orang melihatku… aku kehilangan kendali. Beri aku satu kesempatan.” Arga menarik tangannya menjauh. “Kehilangan kendali tidak membuat seseorang memerintah wanita tua menjilat lantai. Itu bukan emosi sesaat, Alya. Itu menunjukkan siapa dirimu ketika merasa lebih tinggi dari orang lain.” Alya semakin pucat. “Aku bisa berubah! Aku bersumpah! Kita sudah merencanakan masa depan kita!” Arga menatapnya lama, kemudian mengeluarkan kotak cincin kecil dari saku jasnya. Semua orang tersentak. “Benar. Malam ini seharusnya aku meminta restu Ibu untuk menikahimu.” Alya menutup mulutnya. Arga meletakkan kotak itu di atas meja. “Sekarang aku justru bersyukur Ibu datang malam ini.”
“Jangan lakukan ini padaku di depan semua orang!” Alya menjerit, suaranya pecah antara takut dan malu. Arga menjawab dingin, “Beberapa menit lalu, Ibu juga memohon dengan tatapan yang sama. Tapi kamu menikmati saat semua orang melihatnya dipermalukan.” Alya memandang sekeliling. Para sosialita yang tadi berdiri di sisinya kini menghindari matanya. Seorang wanita bahkan berbisik, “Aku tak percaya dia bisa melakukan itu pada seorang ibu.” Alya akhirnya berbalik kepada Ibu Sari. Lututnya perlahan melemah. Ia hendak berlutut di dekat genangan jus yang masih tersisa. “Bu… kalau itu membuat Ibu memaafkan saya, saya akan melakukan apa pun. Saya akan berlutut… saya akan—” Namun Ibu Sari segera memegang bahunya. “Berdiri.” Alya terdiam. Ibu Sari menatapnya tegas. “Saya tidak ingin kamu merasakan penghinaan yang sama. Saya hanya ingin kamu mengerti bahwa orang miskin tetap memiliki harga diri.”
Tangis Alya pecah semakin keras. “Saya minta maaf… sungguh. Saya melihat pakaian Ibu dan langsung menganggap Ibu tidak berarti. Saya salah.” Ibu Sari menghela napas panjang. “Saya memaafkanmu supaya hati saya tidak menyimpan kebencian. Tapi memaafkan bukan berarti semuanya kembali seperti semula.” Alya segera menatap Arga, seolah masih melihat sedikit harapan. “Kamu dengar? Ibumu memaafkanku. Kita masih bisa memperbaiki ini.” Arga menggeleng. “Ibu memaafkanmu karena hatinya besar. Aku tetap harus memilih dengan siapa aku membangun keluarga. Dan malam ini kamu menunjukkan sesuatu yang tidak bisa aku abaikan.” Ia mengambil kotak cincin tadi, menutupnya perlahan, lalu berkata, “Pertunangan kita berakhir malam ini. Bukan karena gaun, bukan karena tamu-tamu ini, tapi karena aku tidak mau ibuku hidup di rumah yang sama dengan seseorang yang mengukur harga manusia dari pakaian mereka.”
Alya berdiri membeku, air matanya terus mengalir. Namun kejutan berikutnya justru datang dari Ibu Sari. Ia mendekati Arga dan berkata, “Nak, jangan membenci dia. Kalau kamu pergi, pergilah tanpa dendam. Biarkan malam ini menjadi pelajaran, bukan hukuman.” Arga menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca. “Setelah semua yang dia lakukan, Ibu masih membelanya?” Ibu Sari tersenyum sedih. “Ibu tidak membela perbuatannya. Ibu hanya tidak mau kamu menjadi keras karena membela Ibu.” Kata-kata itu menghantam semua orang di ruangan lebih kuat daripada teriakan mana pun. Alya menunduk dalam-dalam. “Bu Sari… saya bahkan tidak pantas menerima kebaikan Ibu.” Ibu Sari menjawab, “Kalau kamu benar-benar menyesal, buktikan setelah malam ini. Perlakukan pelayan, sopir, penjaga, dan siapa pun dengan hormat, bahkan ketika tidak ada Arga yang melihat.”
Arga kemudian menggandeng tangan ibunya menuju pintu utama. Sebelum pergi, ia berhenti dan menoleh untuk terakhir kalinya kepada Alya. “Aku pernah mencintaimu karena kukira kemewahan hanya ada di sekelilingmu, bukan di dalam kesombonganmu. Semoga suatu hari kamu menjadi perempuan yang dulu kupercaya ada di dalam dirimu.” Alya terisak. “Arga… apakah suatu hari kamu bisa memaafkanku?” Arga diam beberapa detik lalu menjawab, “Mungkin. Tapi jangan berubah untuk mendapatkanku kembali. Berubahlah supaya tidak pernah ada Ibu Sari lain yang harus berlutut karena merasa dirinya tidak berharga.” Arga dan ibunya berjalan keluar bersama. Alya tetap berdiri sendirian di tengah pesta mewah, dikelilingi orang-orang yang kini melihatnya tanpa rasa kagum sedikit pun. Ia memandang genangan jus di lantai, lalu mengambil kain dari tangan seorang pelayan. Ketika pelayan itu hendak membersihkannya, Alya berkata pelan, “Tidak… biar saya sendiri.” Ia berjongkok dan membersihkan lantai dengan tangannya sendiri sambil menangis. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, bukan gaunnya yang terasa ternoda—melainkan hatinya. Dan malam itu, di antara kemewahan Jakarta yang perlahan kembali bersuara, Alya akhirnya memahami bahwa harga seseorang tidak pernah ditentukan oleh apa yang ia kenakan, tetapi oleh bagaimana ia memperlakukan orang yang dianggap tidak bisa memberinya apa-apa.
Comments (0)
Loading comments...


















