Logo

01-Dia Hanya Melakukan Satu Panggilan Telepon

Article image

Pintu lift privat di ujung butik akhirnya terbuka. Tiga pria berjas turun lebih dulu, lalu seorang lelaki berusia sekitar enam puluh tahun berjalan cepat menuju RAKA. Wajah DION yang tadi masih mencoba mempertahankan harga dirinya langsung berubah pucat ketika mengenali pria itu sebagai Surya Mahendra, pemilik jaringan butik mewah tempat mereka berdiri. Namun Surya tidak menatap DION. Ia justru berhenti di depan RAKA dan menundukkan kepala dengan hormat. “Maaf, Pak Raka. Saya baru mendapat kabar Anda datang malam ini.” NADIRA, KEISHA, dan TARA saling berpandangan. DION tertawa kecil untuk menutupi kegugupannya. “Pak Surya, jangan bilang Anda serius memanggil dia ‘Pak’.” Surya akhirnya menoleh kepadanya. “Saya sangat serius. Dan kalau saya jadi kamu, saya akan berhenti bicara sekarang.”

RAKA tetap berdiri tenang, seolah tidak ada satu pun yang berubah. Ia hanya memandang jam yang sejak awal menarik perhatiannya. Surya membuka etalase dengan tangannya sendiri lalu mengangkat jam itu menggunakan sarung tangan putih. “Jam ini sebenarnya belum kami tawarkan ke publik,” katanya. “Prototipe satu-satunya untuk kolektor utama kami.” DION buru-buru memotong, “Kalau soal uang, saya bisa beli dua.” Surya menatapnya tajam. “Tidak bisa.” DION mengerutkan kening. Surya kemudian berkata pelan, tetapi cukup keras untuk didengar semuanya, “Karena koleksi ini dibuat berdasarkan pesanan keluarga Mahendra untuk Pak Raka. Butik ini, gedung ini, dan perusahaan yang menyewakan lantai tempat klub malammu berdiri… semuanya berada di bawah grup yang dia kendalikan.” Untuk pertama kalinya, DION benar-benar kehilangan kata-kata.

TARA menurunkan pandangan. KEISHA menggenggam tasnya lebih erat, sementara NADIRA yang sebelumnya tertawa paling keras kini tampak ingin menghilang dari ruangan. DION memaksakan senyum. “Oke, salah paham saja. Tadi cuma bercanda.” RAKA menatapnya lama. “Bercanda?” katanya pelan. “Dua kali kamu sengaja menabrak saya, menghina pakaian saya, lalu mengusir saya dari tempat yang bahkan bukan milikmu.” DION mulai gelisah. “Saya tidak tahu siapa Anda.” RAKA mengangguk kecil. “Itulah masalahnya. Kamu pikir hanya orang penting yang pantas diperlakukan dengan hormat.” Kalimat itu membuat ruangan kembali hening. Surya kemudian meletakkan sebuah tablet di meja. “Pak Raka, kontrak bisnis Dion dengan gedung kita tinggal menunggu perpanjangan minggu depan.” DION langsung menoleh tajam.

DION akhirnya kehilangan kesombongannya. Ia mendekat setengah langkah, tetapi Surya langsung menghalanginya. “Raka, dengarkan dulu. Saya bisa minta maaf. Saya bisa bayar apa pun.” RAKA tersenyum tipis untuk pertama kalinya, bukan karena puas, melainkan karena ironis. “Tadi kamu bilang saya tidak akan mampu membeli pengait sebuah jam. Sekarang kamu mau membeli harga dirimu sendiri?” DION terdiam. RAKA mengambil tablet itu, membaca sebentar, lalu mengembalikannya. “Saya tidak akan menghancurkan bisnis seseorang hanya karena dia menghina saya.” Mata DION langsung berbinar, mengira dirinya selamat. Namun RAKA melanjutkan, “Tapi saya juga tidak akan menyerahkan properti perusahaan kepada orang yang memperlakukan manusia berdasarkan harga bajunya. Kontraknya jangan diperpanjang.” Surya menjawab tegas, “Baik, Pak.” Wajah DION langsung runtuh.

DION menelan ludah. “Kamu serius? Puluhan orang bekerja untuk saya!” RAKA menatapnya dingin. “Itu sebabnya stafmu tidak boleh ikut dihukum.” Ia menoleh kepada Surya. “Tawarkan pengelolaan baru untuk lokasi itu. Semua pegawai tetap bekerja, gaji mereka jangan dipotong.” Surya mengangguk. “Saya urus besok pagi.” DION kini benar-benar terpukul karena RAKA bahkan tidak memberinya kesempatan memainkan kartu korban. “Jadi kamu ambil semuanya dari saya?” tanyanya dengan suara serak. RAKA menjawab, “Tidak. Saya hanya mengambil satu hal yang selama ini kamu salah gunakan: hak untuk merasa lebih tinggi dari orang lain.” NADIRA tiba-tiba berkata lirih, “Dion… cukup.” DION menoleh kepadanya dengan marah. NADIRA mundur. “Tidak. Kali ini dia benar. Kita semua keterlaluan.”

KEISHA kemudian maju dan menatap RAKA dengan rasa malu. “Saya ikut menertawakan Anda. Saya minta maaf.” TARA juga berkata, “Saya juga. Tidak ada alasan untuk itu.” NADIRA menarik napas sebelum berkata, “Saya yang paling keras tertawa. Saya salah.” RAKA tidak membuat mereka memohon lebih jauh. “Kalau benar menyesal, jangan minta maaf karena sekarang kalian tahu siapa saya. Minta maaf pada orang berikutnya yang kalian anggap tidak punya apa-apa.” Ketiganya terdiam, lalu mengangguk. DION masih berdiri sendirian dengan wajah hancur. “Dan saya?” tanyanya. RAKA menatapnya. “Kamu punya pilihan yang sama. Belajar dari malam ini, atau terus menyalahkan orang lain sampai tidak ada lagi yang tersisa di sampingmu.” DION menunduk untuk pertama kalinya, bukan karena takut, tetapi karena tidak punya lagi tempat untuk bersembunyi dari kenyataan.

RAKA kemudian mengambil jam dari tangan Surya, memandangnya beberapa detik, lalu justru mengembalikannya ke dalam etalase. Surya tampak bingung. “Pak Raka, bukankah Anda datang untuk mengambilnya?” RAKA menggeleng. “Saya datang karena ayah saya pernah bilang, nilai seseorang tidak pernah terlihat dari apa yang dia kenakan di pergelangan tangannya.” Ia menatap DION sekali lagi. “Malam ini saya rasa saya sudah mendapatkan sesuatu yang lebih mahal daripada jam itu.” DION mengangkat wajahnya perlahan. “Apa?” RAKA berjalan menuju pintu tanpa tergesa-gesa. Tepat sebelum keluar, ia berhenti dan menjawab, “Bukti bahwa orang yang paling miskin di ruangan mewah bukan selalu orang yang pakaiannya paling sederhana.” Pintu terbuka. Surya tersenyum tipis, sementara tiga wanita itu terdiam memikirkan kata-katanya. DION berdiri sendirian di tengah cahaya emas butik, dikelilingi benda-benda bernilai miliaran, namun untuk pertama kalinya merasa benar-benar tidak memiliki apa-apa.

 

Comments (0)

Loading comments...